BAGAIMANA CORONA MENGAJARKANMU UNTUK PEKA TERHADAP SESAMA
Posted: 23 April 2020

Halo, Ladies!

Ada yang bisa menebak hari ini sudah memasuki masa karantina yang keberapa? Mungkin di antara kita ada yang masih bisa menghitung ini tanggal berapa, jam berapa, hingga detik keberapa. Tetapi tidak banyak juga yang kemudian meraba-raba berapa banyak waktu yang sudah dihabiskan di atas kasur, mengulang tontonan yang sama, dan mencoba menghibur diri dengan melihat video-video receh yang selama ini tidak disangka kita bisa tertawa karenanya.

Bosan? Tentu. Siapa yang tidak jenuh “terpenjara” di dalam rumah sendiri selama berminggu-minggu? Dari kegiatan setelah bangun hingga tidur kembali kamu hanya bertemu orang yang sama, pemandangan yang sama, dan bahkan... memakai baju yang sama (hayo, ngaku! Siapa yang jadi malas mandi dan ganti baju semenjak #dirumahaja?).

Kini beraktivitas di luar rumah menjadi sesuatu yang bisa dibilang “istimewa”. Kamu rindu teman-teman kuliahmu, rekan-rekan kerjamu. Kamu bahkan rindu menghabiskan waktu berjalan-jalan sendirian di pusat perbelanjaan, juga menonton film yang sudah lama kamu tunggu-tunggu di bioskop kesayanganmu.

Akhir-akhir ini juga sering hujan deras, ya? Ingat enggak dulu kamu selalu mengeluh ketika hujan tiba-tiba turun saat sedang keluar, kini kamu merindukan bau dan tetesan hujan yang membasahi rambut hingga ujung pakaianmu? Kamu rindu masa-masa mencari tempat berteduh yang akhirnya–secara tidak sengaja–menuntunmu menemukan kedai minuman terbaik di pinggir jalan. Ditemani beragam hidangan tambahan yang menggugah, kamu tidak mau menyimpannya sendirian. Lantas kamu beritahukan teman-teman dan pacarmu bahwa kamu menemukan tempat yang menyenangkan. Dari situlah tempat nongkrong kalian tercipta.

Sekarang bayangkan kursi-kursi di kedai minum tersebut tidak lagi terisi orang-orang muda seusiamu, atau beberapa pasangan yang menghabiskan waktu mereka di malam Minggu sambil menyesap secangkir teh gula batu. Tidak lagi kamu dengar riuh rendah para pengunjung yang sibuk menggunjingkan dosen pembimbing tugas akhir kuliah, atau mengeluhkan pekerjaan yang menumpuk sehingga akhir pekan pun harus lembur. Kamu pun mulai sulit mengingat kapan terakhir kali sahabatmu tertawa kencang di hadapanmu setelah kamu membisikkan rahasia konyolmu, atau momen ketika kamu tersedak minuman saat pacarmu tiba-tiba bilang, “I love you.”

Kini yang tersisa hanya segelintir tukang masak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan HP-nya, juga penjaga kasir yang terduduk lemas menghitung jumlah supir ojek online yang datang setiap harinya dengan pesanan yang tak seberapa. You are bored with your routinity at home while out there, masih banyak orang yang struggle harus tetap bekerja di luar rumah dalam kondisi seperti ini agar mereka dapat mengisi perut dan membayar cicilan supaya bisa bertahan hidup.

Life is never fair, Ladies–it’s true. But for some reason, kadang hidup harus sedemikian menyesakkan agar dapat membuka mata semua orang dan menggerakkan hati siapa pun untuk memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.

Sampai di sini mungkin kamu sudah bisa menebak inti tulisan ini apa. Yup, benar. Ladies, sebagai perempuan teladan dan selalu terdepan, tidak ada salahnya bila kamu berbagi kebaikan, bukan? Enggak usah yang berat-berat sampai bikin kamu kewalahan. Dengan menunjukkan empatimu kepada mereka yang masih berjuang di luar sana dalam bentuk sederhana juga sudah cukup, kok. Minimal memberikan tip kepada supir ojek online ketika kamu melakukan pesan antar, atau menitipkan beberapa baris kalimat penyemangat kepada para tukang masak dan penjaga kasir melalui supir tersebut. Mungkin bisa begini kira-kira bunyinya:

“Hai! Saya pelanggan setia kedai Anda. Setiap malam Minggu saya sempatkan bersama teman-teman bahkan pacar saya untuk menghabiskan waktu di sini. Makanannya enak, minumannya juga juara! Terima kasih telah menyajikan secangkir teh hangat di saat saya kehujanan. Terima kasih juga sudah menemani malam-malam saya ketika lemburan. Bertahanlah, sebentar lagi semua akan berakhir. Kita berjuang bersama-sama, ya! Semoga kita bisa berjumpa lagi.”

Masih merasa kurang? Kamu bisa mengajak teman-teman sekolahmu yang dulu untuk mengirimkan donasi agar bisa membeli banyak APD untuk rumah sakit yang membutuhkan. Selain APD, mungkin ada baiknya juga kamu ikut mendonasikan face wash kepada para petugas medis yang bekerja siang-malam supaya tetap bersih dan segar. Seru, kan?

Jangan lupa juga untuk selalu menebar kebaikan di dalam rumah. Mumpung #dirumahaja, habiskan waktu terbaikmu bersama keluarga yang selama ini tersingkirkan karena urusan kerja, percintaan, dan pertemanan. Gunakan “privilese” kamu dengan baik selama #dirumahaja karena tidak semua orang bisa memiliki kesempatan untuk work frome home (WFH) sambil bercengkerama dengan yang tercinta di tengah pandemi Corona.

Kalau kata Alice Morse Earle, “Every day may not be good, but there’s something good in every day.” So, be positive, Ladies! Badai pasti berlalu. Maka dari itu, yakinkan juga orang-orang di sekitarmu dengan kebaikanmu–bahwa everything’s gonna be okay, and a brighter, calmer day, might come one day.

Selamat menebar kebaikan! Don’t forget to always find the #BeautyinSmallThings. :)